4 Aspek Ancam Pemulihan Ekonomi Dunia

Syahrul Ibrahim

Updated on:

Nusantara Satu Berita Ekonomi Keuangan – Diungkapkan oleh Menteri Keuangan RI Sri Mulyani Indrawati, bahwa terdapat empat aspek yang menjadi ancaman bagi pemulihan ekonomi dunia dari dampak pandemi Covid-19, yakni akses vaksin, inflasi, krisis energi, dan disrupsi suplai komoditas. Iapun menyampaikan, jika keempat aspek ini disoroti oleh berbagai negara yang menghadiri pertemuan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 yang berlangsung di Roma, Italia. “ Ini terjadi di seluruh di negara-negara yang pemulihannya sangat cepat namun kemudian muncul komplikasi dalam bentuk kenaikan harga (komoditas), (krisis) energi dan supply disruption. ” tuturnya dalam konferensi pers terkait Pertemuan G20 secara virtual di Jakarta.

Masih Ada Negara Yang Tingkat Vaklsinasinya Baru 3 Persen

Kemudian Menteri Keuangan RI menuturkan, bahwa akses terhadap vaksin Covid-19 belum merata di seluruh dunia. Hal tersebut berkaca masih adanya negara yang tingkat vaksinasinya kurang dari 3 persen seperti negara-negara di Afrika. Bukan itu saja Sambung Sri Mulyani, rata-rata vaksinasi Covid-19 di negara-negara miskin baru mencapai angka 6 persen dari total jumlah penduduknya. Sementara untuk negara-negara maju, saat ini tercatat sudah berada di atas 70 persen, bahkan mendekati 100 persen dan telah melakukan boosting vaksin Covid-19.

Pada kesempatan yang sama ia juga menerangkan, bahwa pemulihan ekonomi yang cepat menyebabkan tingginya permintaan terhadap komoditas. Tetapi walau begitu lanjutnya, ternyata ada negara yang tidak siap memenuhi kebutuhan tersebut, sehingga terjadi kenaikan harga komoditas atau inflasi. Adapun ketidaksiapan ini ucap Sri Mulyani, bisa berupa adanya disrupsi suplai di pelabuhan, seperti tidak adanya supir yang mengangkut barang, sehingga bahan baku tidak dapat dikirim dan tidak bisa diproduksi oleh industri. “ Waktu permintaan pulih dengan cepat dan kuat ternyata supply start-nya nggak tidak mengikuti. ” tuturnya.

Bukan itu saja kata Menkeu RI, krisis energi terjadi juga karena investasi di bidang energi terutama non-renewable sudah merosot tajam, sementara itu permintaan terhadap energi melonjak seiring pemulihan ekonomi dan memasuki musim dingin. “ Ini mendorong inflasi yang tinggi di berbagai negara dan menjadi ancaman pemulihan ekonomi global. Indonesia perlu waspada terjadinya rembesan hal tersebut. ” pungkasnya.

Tinggalkan komentar