Guna Raih Pemerataan Pertumbuhan Ekonomi, APEC Butuh Strategi

Nur Afni

Nusantara Satu Berita Ekonomi – Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC), kata Menteri Perdagangan (Kemendag) RI Muhammad Lutfi, perlu merumuskan strategi konkret guna mencapai pemerataan pertumbuhan ekonomi. “ APEC perlu memformulasikan langkah konkret guna mencapai pemerataan dan percepatan pertumbuhan ekonomi, terutama melalui peningkatan sektor perdagangan, mendorong integrasi ekonomi regional dalam mendukung pemulihan yang inklusif dan berkelanjutan. ” ucap Mendag lewat keterangannya di Jakarta.

Menteri Perdagangan APEC Saling Bertukar Gagasan dan Praktik Terbaik

iapun menyatakan, bahwa APEC perlu terus memperkuat semangat kemitraan dengan berlandaskan visi yang terbuka dan dinamis, sebagai faktor penting untuk mencapai tujuan bersama. Hal itu mengemuka dalam APEC Ministerial Meeting (AMM) 2021 yang dihadiri oleh Menteri Perdagangan RI Muhammad Lutfi secara virtual pada tanggal 8 hingga 9 November 2021. Dengan mengambil tema ‘Trade as a Vehicle to Accelerate Our Economic Recovery’, para Menteri Perdagangan APEC saling bertukar gagasan dan praktik terbaik mengenai upaya nasional maupun kolektif dalam menstabilkan perekonomian di kawasan.

Pertumbuhan ekonomi yang positif di kawasan APEC, terlihat pada triwulan pertama tahun 2021 yang dipicu dengan meningkatnya performa perdagangan dan aktivitas ekonomi. Hal ini menjadi implikasi dari sejumlah langkah kebijakan yang fasilitatif dalam memperlancar arus perdagangan barang. Khususnya vaksin dan barang esensial, sebagai bentuk implementasi komitmen Pertemuan Menteri Perdagangan APEC (Ministers Responsible for Trade/MRT) pada bulan Juni 2021.

Menteri Perdagangan RI turut menyebutkan, jika pemerataan pertumbuhan ekonomi masih menjadi tantangan tersendiri bagi anggota Ekonomi APEC. Dimana salah satunya, yakni belum meratanya akses dan ketersediaan vaksin yang menjadi faktor penghambat dalam percepatan pemulihan ekonomi. Ditambahkan olehnya, bila Indonesia telah aktif berkontribusi dalam implementasi mandat pertemuan MRT. Hal tersebut dilakukan lewat penerapan kebijakan dalam memfasilitasi arus perdagangan barang esensial, vaksin dan barang medis. Dimana semuanya mencakup kemudahan perizinan, digitalisasi prosedur kepabeanan, relaksasi restriksi ekspor, serta intensifikasi kerja sama, baik dengan Ekonomi APEC maupun di lingkup domestik.

Peningkatan Kolaborasi Efektif Atasi Krisis dan Dorong Pemulihan Ekonomi

Meski begitu sambung Lutfi, kesenjangan akses terhadap vaksin merupakan faktor dominan yang menghambat upaya pemulihan ekonomi secara merata. Peran penting sektor perdagangan serta peningkatan kolaborasi, bisa menjadi instrumen efektif guna mengatasi krisis dan mendorong pemulihan ekonomi di kawasan. “ Kelancaran arus perdagangan dapat menjamin pemerataan akses vaksin, mengingat pemulihan ekonomi sangat bergantung pada keberhasilan vaksinasi, maka upaya dan langkah konkret di sektor perdagangan perlu diintensifkan dalam memastikan akses vaksin yang luas dan merata. ” tuturnya.

Sedangkan pola perdagangan pascapandemi Covid-19, turut menjadi perhatian khusus dalam pembahasan AMM. Ditegaskan oleh para Menteri APEC, perlu adanya pendekatan yang kolaboratif serta adaptif untuk memastikan perdagangan yang inklusif serta berkelanjutan. Indonesia sendii sambung Mendar RI, mendukung komitmen APEC untuk mewujudkan ketahanan ekonomi di kawasan melalui sinergi dengan sektor bisnis serta berbagi praktik kebijakan terbaik yang bisa diadaptasi anggota APEC lainnya.

Usai kesepakatan Bogor Goals, APEC berada pada babak baru dalam upaya mendorong kesejahteraan bagi masyarakat luas dan generasi mendatang melalui APEC Putrajaya Vision 2040. Dan di bawah keketuaan Selandia Baru, visi ini direalisasikan ke dalam berbagai rencana aksi, guna mewujudkan komunitas yang terbuka, dinamis, berketahanan dan berlandaskan perdamaian, termasuk melanjutkan peran APEC dalam mendukung sistem perdagangan multilateral dan WTO.

Pada kesempatan yang sama iapun menyebutkan, bahwa AMM merupakan momen penting bagi para Menteri APEC dalam memberikan sinyal positif dan dukungan terhadap hasil konkret WTO Ministerial Conference (MC-12) yang akan berlangsung pada bulan November 2021. Bukan itu saja, tahun depan, Indonesia selaku presidensi G-20 dan Thailand selaku tuan rumah APEC 2022, turut memegang peran penting dalam menentukan pemulihan arah ekonomi. “ Sinergi antara berbagai organisasi internasional dapat menjadi kunci keberhasilan dalam mengatasi tantangan ekonomi dan menjamin kesejahteraan bagi semua lapisan masyarakat untuk bangkit bersama pascapandemi. ” ujarnya.

Tinggalkan komentar