Teten: 5 Pondasi Ciptakan Ekosistem Usaha Agar Lebih Adaptif

Nur Afni

Nusantarasatu.id – Disampaikan oleh Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki, terkait capaian kinerja pihaknya selama tahun 2021, terdiri dari lima pondasi untuk menciptakan ekosistem usaha agar lebih adaptif. Yang pertama terangnya, pondasi kemudahan akses pembiayaan yang disebut menjadi tema utama Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). “ Selama ini, masalah utamanya adalah pembiayaan. Terutama untuk usaha mikro yang unbankable atau informal sector. “ ucapnya dalam konferensi pers Refleksi 2021 dan Outlook 2022, Jakarta.

Sementara di sektor mikro, diberikan hibah produktif kepada 12,8 juta pelaku usaha dengan total Rp15,36 triliun. Disamping itu, per bulan November 2021, tercatat penyerapan PNM Mekar tumbuh 96,3 persen year-on-year menjadi Rp42,1 triliun dan PNM Ulam sebesar 29,3 persen, menjadi Rp2,79 triliun. Angka ini lanjut Teten Masduki, dinilai menandakan bahwa akses pembiayaan bagi usaha mikro atau sektor informal semakin baik.

Kemudian, UKM ini juga diberikan tambahan subsidi bunga Kredit Usaha Rakyat (KUR) sebesar 3 persen dan telah disalurkan kepada 7,5 juta debitur. Dengan total pembiayaannya, mencapai angka Rp278,38 triliun atau 97,8 persen dari target Rp285 triliun per 30 Desember 2021. “ Kepada pelaku koperasi juga diberikan fasilitas pembiayaan dengan bunga ringan 3 persen sliding dengan realisasi sebesar Rp1,64 triliun atau 102,6 persen dari target Rp1,6 triliun. “ terangnya.

Per November 2021, UMKM Yang On Boarding 16,9 Juta Pelaku Usaha

Selanjutnya pondasi kedua, yakni perluasan pasar dan digitalisasi. Hingga saat ini, tercatat UMKM yang telah on boarding sebanyak 16,9 juta pelaku usaha per November 2021, atau mengalami kenaikan di atas 100 persen sejak pandemi Covid-19. Lalu pondasi ketiga, yaitu mendorong kemitraan UMKM dengan usaha besar. Pada tahun 2021 ini, disebutkan sudah mulai dengan 9 BUMN beserta sejumlah perusahaan swasta, seperti PT Mitra Bumdes Nusantara, Micro Consulting, Uniqlo, IKEA, Tokopedia, MNC Group, INA Product, BNI, Grab, dan Gojek.

Sedangkan pondasi berikutnya jelas Teten Masduki, terkait pendataan UMKM sebagai basis penyusunan kebijakan. Dan yang terakhir, adalah reformasi birokrasi di internal Kementerian Koperasi dan UKM, dengan melakukan penyederhanaan kelembagaan dari sebelumnya enam menjadi empat kedeputian.

Bukan itu saja, ada sejumlah perubahan dalam fokus Smesco yang kini berupaya mengembangkan UMKM dan koperasi agar berdaya saing global. Menkop UKM RI juga mengaku, bahwa Smesco dijadikan sebagai center of excellent bagi pengembangan produk dan model bisnis UMKM yang kompetitif . “ Smesco saya kira sudah berubah model bisnisnya, dari yang sebelumnya lebih ke bisnis properti penyewaan tempat usaha, sekarang kita kembangkan menjadi sayap dagang Kementerian Koperasi untuk mendukung UMKM mengakses pasar yang lebih luas baik dalam negeri maupun luar. ” jelas Teten Masduki.

Tinggalkan komentar