Bank Indonesia: Exit Strategy Harus Dilakukan Secara Gradual

Nur Afni

Nusantarasatu.id – Dinyatakan oleh Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI), Dody Budi Waluyo, bahwa kebijakan bersama untuk keluar dari strategi atau exit strategy, harus dilakukan secara gradual guna menghindari normalisasi dan pemulihan yang prematur. Hal tersebut jelasnya, merupakan salah satu hasil dari Finance and Central Bank Deputies (FCBD) Meeting dalam jalur keuangan atau finance track pada gelaran Presidensi G20 Indonesia. “ Normalisasi dipandang harus dilakukan secara smooth atau gradual untuk menghindari prematur normalisasi karena kondisi negara pulih bergantung pada beberapa faktor. ” ujar Dody Budi Waluyo dalam Konferensi Pers yang berlangsung di Nusa Dua, Bali.

Apalagi terang Dody, International Monetary Fund (IMF) dalam pertemuan ini memberikan ulasan, bahwa outlook ekonomi global relatif dalam jalur pemulihan. Hanya saja, kecepatannya lebih lambat. Pemulihan juga hingga kini masih berlangsung, namun ada risiko yang dihadapi, seperti kesehatan, tekanan inflasi, risiko supply side, shock dalam produksi termasuk perubahan iklim sehingga akan mempengaruhi pertumbuhan 2021 dan 2022.

Exit Strategy Terlalu Lama, Akan Ganggu Instabilitas Sistem Keuangan

Lebih jauh dirinya berpendapat, bila exit strategy dilakukan terlalu cepat, maka akan berbahaya pada proses pemulihan yang sedang berlangsung. Akan tetapi, jika exit strategy terlalu lama justru akan mengganggu instabilitas sistem keuangan dalam jangka menengah panjang. Oleh karena itu lanjut Dody, exit strategy harus dirancang secara penuh, matang dan dikomunikasikan secara baik serta bertahap, khususnya pada pasar terkait normalisasi masing-masing prioritas.

Exit strategy tersebut juga termasuk mengatasi dampak berkepanjangan atau scarring effect dari pandemi Covid-19 dalam jangka menengah dan panjang. Mengingat tanpa kebijakan struktural, maka akan menyulitkan pemulihan ekonomi. Imbas dari pandemi, seperti penutupan pabrik di tengah permintaan yang pulih, namun produksi terbatas. Hal ini memperlihatkan, bahwa exit strategy perlu diterapkan untuk mengatasi hal tui. Kemudian dirinya menambahkan, bjika exit strategy jangan hanya dilihat dari sektor ekonomi saja, namun juga dari sisi tenaga kerja yang turut terganggu, mengingat adanya kebutuhan skill terkait IT yang meningkat. “ Masalah scarring effect dari sisi trade dan health itu diatasi oleh digitalisasi. ” imbuhnya.

Leave a Comment