Menko Airlangga Dorong RI Jadi Hub Produksi Vaksin mRNA

Syahrizal Rahim

Nusantarasatu.id – Indonesia, didorong oleh Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto untuk menjadi hub atau pusat produksi vaksin berbasis mRNA. Hal itu dilakukan lewat gelaran Presidensi G20 RI sebagaimana arahan yang diberikan oleh Presiden Joko Widodo. “ Bapak Presiden melihat arsitektur kesehatan global, terutama untuk mendorong ASEAN termasuk Indonesia agar menjadi hub untuk produksi vaksin berbasis mRNA. ” ujar Menko Airlangga Hartarto dalam Konferensi Pers di Jakarta, Selasa (7/12/2021).

Iapun menambahkan, bila Indonesia menjadi hub produksi vaksin berbasis mRNA, maka ditargetkan setiap negara dengan jumlah populasi 100 juta akan mempunyai minimal satu pusat produksi vaksin. “ Dan tentu ada kaitannya dengan hub intelektual terhadap vaksin tersebut yang perlu dikerjasamakan secara global. ” terangnya.

Hal tersebut jelas Airlangga, sejalan dengan gelaran Presidensi G20 RI yang berupaya untuk menghasilkan hasil lebih konkret termasuk terkait penanganan pandemi Covid-19. Lebih jauh dirinya menilai, Presidensi G20 RI merupakan kesempatan Indonesia leadership di tingkat global dalam menjawab berbagai tantangan yang ada. Perhatian yang diberikan oleh pemerintah melalui gelaran Presidensi G20 RI, berfokus pada pemulihan yang bersifat inklusif, berdaya tahan, dan berkesinambungan.

Permasalahan Menyangkut Vaksinasi Covid-19 Harus Diselesaikan

Adapun pemulihan tersebut termasuk juga mengenai pemerataan akses vaksin bagi seluruh negara baik maju, berkembang dan miskin. Dimana hal itu selaras dengan tema Presidensi G20 RI yakni Recover Together, Recover Stronger. Menteri dari Partai Golkar inipun menyebutkan, jika permasalahan terkait vaksinasi harus segera diselesaikan. Sebab dengan adanya ketimpangan akses terhadap vaksin, justru akan menimbulkan masalah baru seperti kemunculan varian Covid-19 Omicron.

Ia menyampaikan, varian Omicron muncul dari Afrika Selatan yang memiliki vaksinasi rate hanya sebesar 24 persen saja, sedangkan seluruh Benua Afrika rata-data baru 7 persen. Pandemi yang tidak selesai, termasuk adanya kemunculan varian Omicron lanjut Airlangga, akan menekan kehidupan masyarakat dan mengganggu pemulihan ekonomi. “ Kita melihat pembukaan ekonomi masih sangat tergantung pada bagaimana kita menangani pandemi, termasuk varian baru, dan bagaimana tidak panik menghadapi varian baru tersebut. ” ucapnya.

Lebih jauh dirinya mengungkapkan, kolaborasi di tingkat global sangat diperlukan, termasuk melalui G20. Sehingga nantinya akan dihasilkan langkah-langkah terobosan yang lebih kuat dan konkret. “ Selama ini kita menghadapi secara individual. ” imbuhnya.

Tinggalkan komentar