Industri Manufaktur Pendorong Utama RI Keluar Dari Resesi

Nur Afni

Updated on:

Nusantarasatu.id – Diungkapkan oleh Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita, bahwa sektor industri manufaktur merupakan sektor pendorong utama bagi Indonesia untuk keluar dari resesi ekonomi. ” Peran penting ini dapat dilihat dari kinerja makro sektor industri manufaktur di beberapa indikator antara lain investasi, ekspor, impor, kontribusi pajak, kontribusi terhadap PDB, tingkat pertumbuhan, purchasing managers index (PMI), dan ketenagakerjaan. “ ucap Agus Gumiwang saat menggelar Konferensi Pers Akhir Tahun 2021 Kemenperin di Jakarta.

Ia menyebutkan, realisasi investasi di sektor manufaktur pada periode Januari hingga September 2021, tercatat sebesar Rp236,79 triliun. Angka tersebut naik sebanyak 17,3 persen dibandingkan realisasi investasi pada periode yang sama tahun 2020 lalu sebesar Rp201,87 triliun. Adapun nilai investasi terbesar berada pada sektor logam dasar, lalu diikuti oleh sektor makanan dan minuman. Sedangkan untuk realisasi investasi tahun 2021, diharapkan dapat melampaui realisasi investasi tahun 2020 sebesar Rp270 triliun.

Meski Ditengah Pandemi Covid-19, Ekspor Industri Manufaktur Meningkat

Sedangkan dari sisi ekspor dinyatakan, ekspor industri manufaktur terus mengalami peningkatan meski di tengah himpitan pandemi Covid-19. Nilai ekspor industri manufaktur pada bulan Januari sampai November 2021 mencapai angka 160 miliar dolar AS atau 76,51 persen dari total ekspor nasional. ” Angka ini telah melampaui capaian ekspor manufaktur sepanjang 2020 sebesar 131 miliar dolar AS dan bahkan lebih tinggi dari capaian ekspor tahun 2019 saat pandemi COVID-19 belum merebak. ” tegas Menperin.

<img decoding=
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita

Apabila dibandingkan dengan bulan Januari-November 2020, maka kinerja ekspor industri manufaktur pada Januari-November 2021 meningkat sebesar 35,36 persen. Kinerja ekspor sektor manufaktur ini lanjut Agus Gumiwang, sekaligus mempertahankan surplus neraca perdagangan yang dicetak sejak Mei 2020. ” Capaian sektor manufaktur di sisi investasi dan ekspor di atas mengiringi kontribusi sektor manufaktur terhadap penerimaan negara dan kontribusi terhadap pembentukan PDB nasional yang terus meningkat. “ tuturnya.

Sementara untuk pajak sektor industri pengolahan, sepanjang tahun secara merata berkontribusi sebesar 29 persen. Dan penerimaan cukai sektor industri menyumbang sebesar 95 persen dari total penerimaan cukai nasional. ” Adapun dari aspek kontribusi dalam PDB, kontribusi industri manufaktur pada triwulan III tahun 2021 sebesar 17,33 persen di mana angka ini merupakan yang tertinggi di antara sektor ekonomi lainnya. ” jelas Menperin

Kemenperin Bidik Industri Manufaktur Tumbuh Lima Persen di Tahun 2022

Lebih jauh disampaikan oleh Agus Gumiwang, bahwa pihaknya optimis, jika sektor industri manufaktur tumbuh 4,5 hingga 5 persen pada 2022. Walaupun pandemi Covid-19 kemungkinan besar masih akan menyertai perjalanan Indonesia dalam mengakselerasi pembangunan industri manufaktur di tahun depan. ” Berbekal pengalaman dan pelajaran yang diperoleh selama menghadapi pandemi COVID-19, optimisme menghadapi tahun 2022 dan masa depan tak akan pernah surut. Seiring dengan membaiknya kondisi perekonomian nasional, kami menargetkan pertumbuhan industri manufaktur sebesar 4,5-5 persen pada 2022. “ imbuhnya.

Dalam upaya mencapai target-target di atas, Kemenperin mengidentifikasi sejumlah kendala dan tantangan yang akan dihadapi tahun depan. ” Kendala sekaligus tantangan tersebut antara lain disrupsi dari rantai pasok, kelangkaan kontainer yang diakibatkan oleh ketidakseimbangan perdagangan lewat laut. Berbagai acara internasional khususnya eksibisi/pameran internasional yang diselenggarakan dalam bentuk virtual/digital kurang mampu menarik bagi pengunjung. ” terangnya.

Selain itu, ketergantungan impor bahan baku serta bahan baku penolong sambung Agus Gumiwang, perlu adanya upaya mitigasi terhadap gelombang varian Omicron pada sektor industri. ” Kemudian, kami mengkaji untuk adanya usulan pemberian insentif baru bagi sektor industri tertentu agar daya saing industri meningkat. ” pungkasnya.

Tinggalkan komentar