Peningkatan Kapasitas Perempuan di Bidang Sains Didukung KPPPA

Nur Afni

Nusantarasatu.id – Upaya untuk peningkatan kapasitas perempuan dalam bidang sains, teknologi, dan rekayasa supaya para perempuan bisa lebih banyak berperan dalam dunia kerja di era otomatisasi, mendapat dukungan penuh dari kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA).

” Efek otomatisasi pada pekerjaan dan kesejahteraan perempuan dapat bervariasi, tergantung pada kemampuan mereka untuk beradaptasi. Jika perempuan dapat beradaptasi dan bertahan di era disrupsi ini, mereka bisa menjadi lebih produktif dan mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang lebih baik. Jika tidak, mereka mungkin mendapat gaji yang rentangnya jauh lebih kecil atau tertinggal ketika progress (kemajuan) menuju kesetaraan gender di lingkup pekerjaan menurun. ” ucap Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Bintang Puspayoga sebagaimana dikutip dalam siaran pers kementerian yang diterima di Jakarta, Jumat (10/12/2021).

Kerentanan Perempuan Meningkat Seiring Datangnya Otomatisasi

Iapun menambahkan, bahwa perempuan membutuhkan pendidikan dan keterampilan tinggi serta penguasaan teknologi untuk beradaptasi dengan dunia kerja pada era otomatisasi. Sementara itu disampaikan oleh, Deputi Bidang Kesetaraan Gender KPPPA Lenny N Rosalin, bahwa kerentanan perempuan meningkat seiring dengan datangnya masa otomatisasi. Ia berpendapat, peningkatan kerentanan perempuan antara lain terjadi karena proporsi perempuan dalam angkatan kerja serta partisipasi perempuan dalam bidang sains, teknologi, rekayasa, dan matematika masih lebih rendah jika dibandingkan dengan lelaki.

berdasarkan data yang dimiliki oleh pemerintah, partisipasi perempuan dalam angkatan kerja saat ini sekitar 53,13 persen, jauh lebih rendah dibandingkan dengan tingkat partisipasi laki-laki yang sampai 82,41 persen. Bukan itu saja lanjutnya, persentase perempuan lulusan pendidikan di bidang sains, teknologi, rekayasa, dan matematika baru sekitar 37 persen. Hal tersebut jauh lebih rendah dibandingkan persentase laki-laki lulusan pendidikan sains, teknologi, rekayasa, dan matematika yang sekitar 63 persen.

Sedangkan kaum perempuan yang menggunakan internet, tercatat 46,87 persen, lebih rendah dibandingkan persentase laki-laki pengguna internet yang sebesar 53,13 persen. ” Data ini mendorong kita untuk bertindak afirmatif untuk mengangkat perempuan dan membuat mereka siap menghadapi pekerjaan yang sangat kompetitif di era otomatisasi. ” tegas Lenny seraya menambahkan, jika KPPPA telah melakukan penataan kebijakan serta menjalankan serangkaian program untuk mendukung peningkatan daya saing perempuan, termasuk di antaranya daya saing dalam bidang sains, teknologi, dan rekayasa.

Tinggalkan komentar