Tradisi Lompat Batu Nias Jadi Daya Tarik Bagi Wisatawan

M. Sanudin

Nusantarasatu.id – Indonesia bukan hanya terkenal akan kindahan panorama alam serta pantainya saja. Namun kekayaan budaya dari berbagai suku di nusantara ini juga menjadi salah satu daya tarik tersendiri bagi para wisatawan. Salah satu budaya yang sangat terkenal yaitu lompat batu dari pulau Nias, Sumatera Utara. Tradisi lompat batu atau Hombo Batu (Fahombo) ini memang hanya ada di Pulau Nias saja. Sehingga otomatis hal ini membuat siapa pun yang mendengar kata Nias, maka hal pertama yang terbersit adalah budaya lompat batunya. Saking melekatnya tradisi lompat batu dengan Pulau Nias, hingga ketika para traveler berkunjung ke Nias, orang Nias selalu mengatakan, “Belum ke Nias bila tak menyaksikan aksi lompat batu.”

Meski demikian, tak semua wilayah di Pulau Nias memiliki tradisi ini. Bahkan kini tradisi lompat batu hanya bisa ditemui di beberapa desa saja, salah satunya di wilayah Telukdalam, tepatnya di Desa Bawomataluo. Jaraknya sekitar 3,5 jam perjalanan darat dari Bandara Binaka Nias.

Tradisi Lompat Batu Merupakan Latihan Para Prajurit

Fahombo atau Hombo Batu ini adalah tradisi yang diwariskan secara turun temurun dari generasi ke generasi oleh leluhur orang Nias (Ono Niha) sejak berabad-abad tahun lalu. Awalnya tradisi lompat batu ini merupakan kegiatan latihan para prajurit. Mengingat latar belakang kehidupan orang-orang Nias zaman dahulu yang sering berperang antar kampung. Permasalahannya, tidak jauh-jauh dari masalah perebutan wilayah kekuasaan.

Untuk menjaga agar wilayah mereka aman dari serangan musuh, kampung-kampung di Teluk Dalam, Nias Selatan pada masa itu dibentengi pagar bambu runcing setinggi 2 meter. Karenanya untuk bisa menerobos kampung lawan, para prajurit harus memiliki ketangkasan melompat. Prajurit yang berhasil melewati pagar, kemudian membuka kunci dari dalam lalu membuka gerbang, dan seluruh pasukan yang menunggu di luar pun menyerbu masuk.

Tradisi Lompat Batu Nias Dilakukan Oleh Para Pemuda

Saat ini sudah tak ada lagi perang antar kampung di Nias. Peperangan yang umum mereka lakukan justru dikemas menjadi satu tarian sebagai daya tarik wisata. Demikian pula dengan tradisi lompat batu, kini disatukan dalam upacara ritual khas Nias, baik dalam upacara budaya penyambutan tamu kehormatan, festival budaya, maupun acara-acara budaya lainnya. Kegiatan tradisi lompat batupun dilakukan oleh para pemuda Nias.

Sebelum melompat, para pemuda yang mengenakan pakaian prajurit ini mengambil ancang-ancang dengan jarak yang tak terlalu jauh, yakni hanya sekitar 5-6 meter. Kemudian satu-persatu mereka melaju kencang, menginjak sebongkah batu kecil, lalu melayang ke udara melewati batu besar setinggi lebih dari 2 meter dan mendarat dengan mulus. Tubuh mereka tidak boleh menyentuh permukaan batu sedikit pun. Dengan demikian, mereka harus memperhitungkan betul antara berlari, berpijak, kemudian melayang ke udara. Jika perhitungan meleset, maka fatal akibatnya.

Cedera menjadi hal yang biasa dialami oleh para pelompat batu, seperti patah tangan, patah kaki, patah tulang tusuk, hingga cedera kepala akibat terbentur batu. Oleh karena itu, tidak semua pemuda Nias bisa melakukan lompat batu. Sekalipun telah berlatih sejak usia 7 tahun, akan tetapi hanya beberapa pemuda yang lolos sebagai pelompat batu.

Tinggalkan komentar