Varises, Sepele Namun Membahayakan

Reza Arya

Nusantarasatu.id – Varises biasa dikenal sebagai penyakit yang tidak berbahaya, hanya merusak penampilan seseorang terutama seorang wanita saja. Tetapi sebenarnya, ia bukan hanya soal penampilan. Banyak yang tidak menyadari bahwa tersimpan bahayanya dibalik kelokannya yang mengukir di betis Anda.

Sebelum lebih lanjut membahas bahayanya, penting untuk kita tahu apa itu varises dan apa penyebabnya. Varises adalah pembengkakan dan pelebaran pembuluh darah vena yang biasanya terjadi pada bagian kaki akibat penumpukan darah. Orang-orang yang menderita penyakit ini, pembuluh vena mereka juga dapat terlihat menonjol keluar berwarna biru atau ungu tua. Kadang-kadang bentuknya menyerupai simpul atau tali berpilin.

Varises bisa terjadi di semua pembuluh vena pada tubuh, namun kondisi ini paling sering terjadi di kaki (terutama betis) karena tekanan yang besar saat kita berdiri atau berjalan. Kasus varises kebanyakan dialami oleh wanita dibanding pria. Selain berjenis kelamin wanita, faktor lain yang bisa meningkatkan seseorang terkena varises adalah obesitas, kehamilan, dan usia tua.

Makin tua usia seseorang maka keelastisitasan vena akan makin berkurang. Tentu saja hal ini juga dapat mengurangi kinerja katup karena ikut melemah. Jika sudah seperti ini, darah akan dengan mudah melawan arus dan mengendap di dalam pembuluh vena. Varises juga merupakan penyakit yang dapat bersifat keturunan. Artinya, peluang Anda untuk mengalami kondisi ini akan lebih besar jika memiliki keluarga berpenyakit sama.

Selain faktor keturunan, varises juga bisa terjadi pada kehamilan. Biasanya varises mulai terlihat ketika rahim mulai membesar dan volume darah meningkat sehingga makin memberikan tekanan pada vena. Selain akibat tekanan, meningkatnya kadar hormon selama kehamilan juga dapat membuat otot vena menjadi lebih rileks dan berimbas kepada melemahnya perlindungan katup. Oleh karena itu, terbentuklah varises. Obesitas juga disinyalir mengakibatkan varises. Tekanan pada vena kaki akan bertambah jika bobot tubuh Anda besar juga. Selain menyulitkan vena dalam mendorong darah ke jantung, tekanan besar juga dapat memperlemah katup sehingga terjadi arus balik darah.

<img decoding=
Varises

Pengobatan

Metode pengobatan yang biasa disarankan oleh dokter adalah operasi pengangkatan pembuluh vena yang mengalami varises dan operasi penutupan pembuluh vena dengan menggunakan bahan khusus berbentuk busa (skleroterapi) atau dengan menggunakan panas (endothermal ablation).

Sebelum melakukan tindakan pengobatan, biasanya dokter akan mendiagnosis penyakit varises dengan terlebih dahulu mengumpulkan keterangan seputar riwayat kesehatan mengenai gejala, riwayat kesehatan, dan faktor risiko pada pasien. Setelah itu dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dengan mengamati bagian-bagian yang mengalami varises. Misalnya jika pasien suka berdiri terlalu lama, memiliki latar belakang keluarga berpenyakit varises, atau pernah mengalami luka serius pada kaki.

Selanjutnya dokter akan melakukan pengamatan secara kasat mata saja pada bagian kaki yang sakit, bengkak, mengalami perubahan warna kulit, bahkan luka jika ada. Saat diamati, umumnya dokter akan menyuruh pasien berdiri. Pemeriksaan atau tes selanjutnya biasanya tidak diperlukan, kecuali dokter mencurigai adanya komplikasi-komplikasi yang terjadi akibat penyakit ini (misalnya trombosis vena dalam).

Tes yang paling sering disarankan dalam hal ini adalah USG Duplex Doppler. Metode pemindaian ini dapat membantu dokter melihat aliran darah di dalam pembuluh vena lewat gambar yang dihasilkan oleh gelombang suara berfrekuensi tinggi. Selain dengan USG Duplex Doppler, aliran darah di dalam pembuluh vena juga bisa diamati oleh dokter melalui tes yang dinamakan angiogram, meskipun metode ini jarang dilakukan.
Dalam tes angiogram, dokter akan menyuntikan zat pewarna khusus ke pembuluh vena agar ikut mengalir bersama darah. Selanjutnya, dokter akan menggunakan X-ray untuk melihat tingkat kelancaran dari aliran zat perwarna tersebut. Jika tidak lancar, berarti mengindikasikan adanya penggumpalan darah di dalam pembuluh vena.

Varises Ringan Bisa Ditangani Sendiri Dirumah

Kondisi varises yang masih tergolong ringan masih dapat ditangani sendiri di rumah. Tujuannya adalah meredakan gejala, mencegahnya bertambah parah, serta menghindari terjadinya komplikasi berupa luka atau pendarahan. Hindari berdiri terlalu lama dan luangkan beberapa saat untuk mengistirahatkan kaki Anda dalam posisi tubuh direbahkan dengan diberi penyangga (posisi kaki lebih tinggi dari badan). Jangan lupa untuk selalu menjaga berat badan ideal dan rutin berolahraga.

Selain cara-cara tersebut, satu hal yang tidak boleh dilupakan oleh penderita varises adalah pemakaian stoking khusus menangani penyakit ini. Sebutan lain dari stoking ini adalah bebat kompresi. Stoking varises dirancang untuk memberikan tekanan pada otot kaki dan vena sehingga aliran darah lebih lancar. Stoking ini juga dapat meredakan pembengkakan dan nyeri akibat varises.

Pemakaian stoking varises biasanya dianjurkan oleh dokter dari mulai Anda bangun tidur di pagi hari sampai menjelang Anda tidur di malam hari. Biasanya umur pemakaian satu stokingnya berkisar antara 3-6 bulan, setelah itu harus diganti dengan yang baru. Apabila pemakaian stoking varises membuat kulit Anda kering, Anda bisa memakai krim pelembap sebelum Anda tidur.

Namun apabila gejala penyakit varises tidak kunjung mereda melalui pengobatan di rumah atau bahkan makin parah dan berpotensi menimbulkan komplikasi, timbul luka pada permukaan kulit yang menutupi pembuluh vena varises maka sebaiknya Anda segera menemui dokter.

Berikut Contoh Pengobatan Yang Mungkin Disarankan Dokter:

  1. Injeksi skleroterapi, yaitu penyuntikan cairan khusus ke pembuluh vena yang mengalami varises dengan tujuan membentuk luka yang dapat menutup saluran darah tersebut. Selain dengan cairan khusus, ada teknik skleroterapi terbaru dengan menyuntikkan zat yang menyerupai busa. Metode ini biasanya dilakukan untuk mengobatinya pada pembuluh vena yang berukuran besar. Dalam melakukan penyuntikan, dokter akan dipandu dengan USG. Efek samping skleroterapi bisa berupa nyeri punggung bagian bawah, sakit kepala, daya penglihatan menjadi berkurang (bersifat sementara), perubahan warna kulit, penumpukan darah di pembuluh vena bagian tubuh lain, dan pingsan.
  2. Metode ini bertujuan menutup pembuluh vena yang mengalami pembengkakan cukup besar akibat varises dengan cara membakar dindingnya menggunakan energi radiofrekuensi. Setelah dibakar, dinding pembuluh vena akan runtuh dan menutup saluran tersebut. Setelah pembuluh vena yang mengalaminya terkunci, darah akan secara otomatis mengalir secara alami melalui vena lainnya yang masih sehat. Untuk menembakkan energi radiofrekuensi secara tepat sasaran, dokter memerlukan bantuan kateter dan USG. Efek samping radiofrekuensi dapat berupa kesemutan.
  3. Sama seperti radiofrekuensi, pengobatan dengan menembakkan sinar laser juga bertujuan menutup pembuluh vena yang mengalaminya. Metode ini juga dibantu dengan kateter dan USG. Efek samping sinar laser bisa berupa nyeri dan memar di bagian varises, atau kaki terasa keras.
  4. Bedah terbuka. Ini merupakan prosedur pengangkatan pembuluh vena yang terkena varises melalui irisan yang dibuat pada permukaan kulit.

Leave a Comment